SELAMAT DATANG DI INFO DUNIA_AXEL ACHMAD_BLOGSPOT.

Jumat, 16 Desember 2011

kematian dan rahasia terbesarnya

Banyak yang bilang jika seseorang sudah meninggal dunia maka orang tersebut akan di hidupkan kembali di dalam kubur untuk di berikan siksa kubur atau pun nikmat kubur oleh Malaikat.

Apakah ini benar terjadi?

Hanya Alquran Petunjuk PALING MEMUASKAN.

Sepertinya sangat tidak mungkin jika seseorang yang sudah mati konon jasad dan rohnya itu akan dipersatukan kembali supaya dapat merasakan siksa kubur. Jikalau memang benar, lalu bagaimana dengan jasadnya Firaun yang masih ada sampai saat sekarang ini? bukankah jasad itu baik-baik saja? bukankah jasad Firaun diselamatkan oleh Allah sebagai/untuk menjadi bahan pelajaran bagi kita semua?

Surat 10/92:
"Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu (badannya firaun) supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah akan tanda-tanda kekuasaan Kami."

Dan di tambah lagi, bagaimana pula dengan banyak jenazah yang tersimpan pada kamar mayat di Rumah Sakit??!! Bukankah ini sungguh tidak masuk akal???

Dan jika ada yang berdalih bahwa yang disiksa itu roh nya saja, maka ini lebih aneh lagi. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?? Roh itu adalah wujud yang sangat gaib, wujud yang tak bisa dilihat, diraba, didengar, dirasa, ataupan diketahui, 17/85. Dan jika itu pun terjadi, maka hal itu bertentangan dengan pernyataan surat 2/28serta 40/11 yang menyatakan bahwasanya hidup dan mati itu 2 kali. Hidup yang pertama itu ya didunia saat ini, sedangkan hidup yang kedua itu ya didunia saat nanti. Sangat jelas tidak ada ayat Alquran yang mengatakan bahwa hidup itu 3 kali.

Dari kesimpulan diatas, kita mungkin akan bertanya :

"Lalu apa sebenarnya kematian itu?"

Kita semua tahu bahwa jasad seseorang yang sudah mati itu pastinya sudah tidak memiliki roh lagi dan secara otomatis otak serta perasaannya tidak berfungsi lagi. Dia terlepas dari segala rasa, waktu, dan kesadaran hingga sampai pada waktunya. "Hingga sampai pada waktunya" disini berarti sebuah BATAS.

Tapi apakah yang dimaksud BATAS itu?

Untuk menjawabnya, ada baiknya kita buka 2 kisah terkait dari Alquran.

Kisah yang pertama pada surat 2/259 yang menceritakan seseorang bernama Uzair yang penasaran bagaimanakah kematian itu dan bagaimana pula rasanya kebangkitan itu, lalu Allah mematikan orang ini 100 TAHUN LAMANYA. Kemudian orang itu dihidupkan kembali, sewaktu ditanya berapa lama dia telah ada disana, si Uzair ini menjawab :

"SEPERTI SETENGAH ATAU SATU HARI".

Kisah yang kedua pada surat 18/19-25 yang menceritakan ada beberapa pemuda yang berada di agama Allah yang bersembunyi dari kejaran kaum kafir, dan di goa itu mereka dimatikan oleh Allah SELAMA 309 TAHUN. Dan ketika Allah menghidupkan mereka kembali, mereka (hati mereka) :

HANYA MERASA TELAH TERTIDUR SELAMA SETENGAH HARI SAJA.

Subhanallah!! Dari 2 kisah diatas yang sengaja di abadikan Alquran ini, akhirnya kini terungkaplah pengetahuan besar untuk kita semua, YAITU jika kita, diri kita, sudah meninggal dunia MAKA saat itu jugalah Allah membuat perasaan kita ini dibuat "seperti" HAL NYA ORANG YANG SEDANG TERTIDUR.

Tidur tanpa mimpi.

TERTIDUR? Ya. saat kita tidur saja kita tidak tahu di mana roh kita berada. Apa lagi saat kita mati.

Karena memang keduanya adalah sama.



Siapapun dari kita pasti pernah mengalami bahwa yang namanya tidur itu meskipun sebenarnya lama, tetapi terasanya itu hanya sebentar. Sebagai contoh, kita tidur dari jam9 malam s/d jam6 pagi, lalu kita bayangkan apa keesokan paginya?! Pasti kita, tepatnya PERASAAN KITA dipagi itu akan merasa bahwa jarak jam9 s/d jam6 itu sangatlah sebentar.

Jadi begitulah meskipun sebenarnya lama, namun ketika kita dibangkitkan Allah diakhirat nanti, kita semua tetap akan merasa bahwa diri kita ini baru saja tertidur selama setengah hari atau bahkan beberapa jam saja!!!

Seperti pelajaran dari 2 kisah yang telah kita uraikan diatas. Padahal apa yang mereka alami mengenai jumlah waktu berapa lama kematian mereka itu berbeda satu sama lain. Yang satu 100 tahun, yang satu lagi 309 tahun, tapi pada saat dibangkitkan perasaan mereka hampir sama, yakni sama2 hanya merasakan sebentar saja. Sehingga dalam hal ini TERNYATA benarlah bahwasanya hari kebangkitan adalah HARI YANG SANGAT DEKAT!!

Jadi, hanya orang lalai saja yang apabila mengerjakan dosa, lalu berkata, "Ah, akhirat masih lama ini..". Orang demikian tidak sadar bahwasanya apabila dia sudah meninggal, maka hari wafatnya itu adalah hari dimana dia TERTIDUR yang esoknya (padahal telah jutaan tahun mati) adalah hari dia terbangun. Dan saat itulah orang tersebut sadar sekaligus menyesal bahwasanya dunia yang ditinggalkannya cuma berjarak beberapa jam saja dengan akhirat.

Surat 17/51:
"....mereka bertanya lagi, "siapakah yang menghidupkan kami kembali kelak?" Jawablah, "Dia. Yaitu yang menciptakan kamu kali pertama." Mereka kembali bertanya lagi, "kapankah terjadinya?" Maka katakanlah, "SANGAT DEKAT WAKTUNYA"."

Surat 36/51-52:
"Dan saat sangkakala ditiup itulah, lantas mereka keluar dari kuburnya menghadap kepada Tuhannya. Mereka berkata, "Oh celakanya nasib kami!! Siapakah yang membangunkan kami dari TIDUR ini?" Itulah yang dijanjikan Tuhan Yang Maha Pemurah. Terbuktilah (pada hari itu) oleh mereka sendiri tentang apa yang disampaikan para rasul."

Surat 39/42:
"Sesungguhnya Allah mematikan manusia diwaktu ia meninggal dunia dan mematikan manusia diwaktu ia tidur. Maka jiwa (yang meninggal) ditahanNya (sampai hari kebangkitan). Dan jiwa (yang tidur) dikembalikanNya sampai waktu yang ditentukan (sampai bangun tidurnya). Sesungguhnya hal itu menjadi tanda-tanda kekuasaan Allah bagi MEREKA YANG BERFIKIR."


Kesimpulan:

1. Orang yang sudah mati maka jasad dan rohnya itu tidak akan hidup lagi.

2. Tidak ada yang namanya siksa/nikmat kubur. Hidup hanya 2 kali. bukan 3 kali.

3. Mati karena sakit, kecelakaan, penganiayaan, pembunuhan, semua sama sajaTIDAK TERASA.

4. Jiwa kita saat itu juga oleh Allah dibuat seperti jiwa orang yang tertidurTENANG & DAMAI.

5. Sehingga dalam hal ini benarlah bahwa Hari akhirat adalah hari yang sangat dekat sekali.

6. Karena saat bangkit kelak, kita akan merasa bahwa dunia ini hanya sebentar.

7. Apa yang terjadi pada jasad kasar didalam kubur hanyalah bentuk penghinaan saja. Bukan siksa.

8. Siksa yang sesungguhnya adalah nanti di neraka.

"Pada hari mereka (terbangun) melihat hari akhirat itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal melainkan (seperti bangun tidur) di waktu sore atau pagi hari.

(Q.S. An-Nazi'aat : 46)

Kamis, 15 Desember 2011

Allah yang merawatnya, Allah yang menyembuhkannya....!!!! (Terserah-serah Tuhan, kita hanya berusaha dan berdoa)

Ya Allah ya Rabbi ya Karim, 
wahai saudara-saudaraku....
Kita semua disini menginginkan kesehatan, 
untuk terus ada dalam diri kita,  
untuk terus menemani kita sepanjang waktu, 
dan saya pikir tidak ada orang yang menginginkan sakit, 
bahkan binatang sekalipun tidak mau di beri sakit. 
namun bagaimanapun itu, kita harus sadar kelemahan kita. 
bahwa segala bentuk dan macam penyakit 
yang kita saksikan atau yang kita sendiri rasakan , 
yang datang dan pergi, yang lama atau sebentar, 
yang berat atau ringan, itu ada saklar utamanya.
Ada yang mengoperasikannya, Jadi
Ada yang mengatur keluar masuknya penyakit dalam tubuh
Ada yang mengelola setiap proses kesembuhan itu.....

Yang ingin saya kemukakan, Bahwa Kalau sekiranya anda mendapati satu dua dan seterusnya kejadian di muka bumi ini, maka berhati-hatilah mempola-pikirkannya. Kalau Nabi Musa pegang tongkat, bersama pasukannya dikejar tentara Firaun, mendapat perintah dari Allah, “Pukulkan tongkatmu ke air laut!” Lantas laut terbelah, pasukan memasuki belahannya, kemudian Firaun dan tentaranya mengejar ke belahan itu, namun tenggelam karena air menutup kembali, mohon dengan sangat jangan simpulkan bahwa yang dipegang Musa itu “tongkat sakti”, sehingga Nabi Musa juga “Maha Dukun” yang sakti.


Mohon dengan sangat, jangan rumuskan bahwa tongkat Nabi Musa mampu membelah laut, mampu menerbitkan mata air dari batu kering, meskipun insya Allah bisa bikin pecah kepala kita. Apalagi lantas dengan metodologi ilmiah tertentu, para pakar meneliti tongkat itu mengandung zat dan energi apa sehingga air samudra terbelah olehnya. Kalau besok paginya Anda minta kepada Nabi Musa untuk membelah air laut lagi, percayalah air laut tak akan terbelah. Sebab, yang membuat laut terbelah bukanlah Musa atau tongkatnya, melainkan perintah atau perkenan Allah.


Allah ini pemegang saham dan the only resources dari seluruh “alam semesta ini dengan segala ketentuan hukum dan perilakunya”. Hak absolut Allah untuk menyuruh orang membelah laut dengan tongkat atau dengan meludahinya. Kalau Musa pukulkan tongkat lagi ke laut tanpa perintah-Nya, dijamin tak terjadi apa-apa. Atau besoknya Tuhan suruh Musa “Berteriaklah keras-keras!”, lantas tiba-tiba laut terbelah lagi ditambah gunung ambruk dan air sungai membalik arah arus airnya, itu sepenuhnya terserah-serah Tuhan.


Makhluk, juga dokter atau dukun, batasnya adalah mengobati atau menjadi sarana proses menuju kesembuhan. Tapi pengambil keputusan untuk sembuh atau hak dan kuasa untuk menyembuhkan ada pada Allah. Terserah Dia juga mau bikin sembuh orang sakit pakai cara bagaimana dan alat apa. Bisa tongkat, bisa batu, bisa air, bisa obat, pil atau tablet, bisa lewat terapi atau bisa karena ditempeleng, bisa dengan apa pun saja semau-mau Tuhan. Yang diperintah oleh Tuhan untuk menjadi sarana penyembuhan terserah Dia juga. Mau Dokter, kiai, pendeta, pastor, dukun, tukang batu, biksu, Rasul, Nabi, pengemis, atau siapa pun dan apa pun saja. Terserah Dia juga mau bikin sembuhnya kapan, Bisa sekarang, besok, tahun depan, atau tahun kapan saja. Terserah Tuhan. Dia Maha Pemilik Saham segala sesuatu dalam kehidupan, Dia berhak ambil keputusan apa saja. Dia berhak ambil keputusan kapan saja.

Jadi, sehat sakitnya seseorang, sembuh tidaknya, hidup matinya, itu nyata dan asli bahwa Allah adalah pemegang sejati  tombol on-off diri kita. jadi berhasil tidaknya seorang dokter menyembuhkan si sakit , sukses gagalnya ia mewujudkan kesembuhan, itu sangatlah bergantung pada Maha kehendak-Nya , Sehingga tidak ada kosakata tidak bisa bagi-Nya, karena jangankan menyembuhkan sakit nabi ayyub, menghidupkan orang mati, apapun dengan mudahnya terjadi dengan kuasa-Nya. jelasnya, laut akan mengering, langit bisa saja runtuh, gunung tercabut, apapun pasti terjadi kalau Kun-Nya Tuhan sudah angkat bicara. Maka, yakinlah bahwa Tuhan yang menjadikan sakit itu, maka Tuhan yang akan merawatnya, Tuhan yang akan menyembuhkannya.


Jadi silahkan datanglah ke dokter, mintalah resep, minta obat, sebagaimana ratusan juta orang telah melakukannya. Datanglah ke kiai, bawa air putih. Atau datanglah ke mana pun kepada siapa pun. Asalkan anda tidak memposisikan mereka pada kuasa-Nya. Asalkan anda tidak lupa bahwa yang berperan penuh, rutin dan permanen atas semua ini adalah Allah, Letak tumbuhnya embrio syirik ialah pada pola pandangmu, pada cara berpikirmu. Jangan percaya kepada dokter, Dukun, atau Kiai,  sekali lagi jangan pernah percaya kepada mereka semua, tapi hormatilah mereka,  hargailah mereka, berterima kasihlah kepada mereka, karena siapa tahu mereka adalah hamba-hamba Allah yang dititipkan sarana untuk kesembuhanmu. Minumlah pil dokter, air dari dukun atau doa dari kyai, tapi dengan kesadaran memohon kepada Allah yang Maha Penyembuh sejati….”


"Allahumma Isyfii Anta Asy-Syaafii, Laa Sifaa-an Illaa Syifaauka Syifaa-an, 
Wa Laa Yughodiru Saqoman Wa Laa Alaman"

Keajaiban Waktu Salat dalam perspektif Pengobatan Ilmu Cina

ternyata keajaiban salat bukan pada geraknya aja gan, waktu mengerjakannya pun merupakan keajaiban



Taukah Anda? Gerakan yang Anda selalu lakukan ketika salat, baik itu rukuk, sujud, maupun duduk merupakan gerakan yang paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Bahkan dari sisi medis, salat merupakan obat dari berbagai jenis penyakit.


Ilmuwan China yang belajar Pengobatan ilmu cina pun mengungkapkan berbagai macam manfaat salat bagi kesehatan berdasarkan waktu pelaksanaannya.


Berikut penjabaran Salat dalam perspektif Pengobatan Ilmu Cina


1. Salat subuh

Pukul 05.00-06.00 saat salat subuh merupakan waktu yang abik untuk menerapi pencernaan.


2. Salat zuhur

Pada waktu salat zuhur, ada energi api yang keluar pada dari pukul 12.00 WIB sampai sore yang bermanfaat bagi jantung dan ginjal.


3. Salat ashar

Dalam gerakan sholat ashar, terdapat siklus dari panas ke dingin yang berguna bagi terapi kandung kemih. Secara alamiah, gerakan salat ashar ternyata memisahkan zat-zat kimia dalam tubuh kita.


4. Salat magrib

Ada energi air yang keluar pada pukul 18.00 WIB setelah terbenamnya matahari. Menurut Pengobatan ilmu cina waktu maghrib yang disertai gerakan salat sekaligus menerapi ginjal.


5. Salat isya

Salat isya dilakukan setelah matahari terbenam. Waktu ini disebut dapat mengurangi kelebihan energi. dan, ada energi kayu yang keluar pada pukul 23.00 WIB yang mampu menghancurkan racun-racun di tubuh. Menurut Pengobatan ilmu cina, racun itu dibakar kayu untuk membuang racun di otak.


6. Salat tahajud

Ilmuwan China menyebut sembilan gerakan sholat sebagai gerakan suprayoga karena energi itu akan masuk ke syaraf di tangan dan cara yang paling tepat untuk menangkap energi itu. Karena itulah, saat kita melakukan takbir waktu mengawali sholat dan takbir waktu bangun dari ruku, di situlah energi masuk.



Maka tak mengherankan bukan mengapa Allah menyerukan kita untuk salat. Selain sebagai tiang agama, salat merupakan ibadah wajib yang bersifat terapi. Bila kita rajin melakukan salat, niscaya Allah SWT akan memberikan petunjuk dan kemudahan bagi kita.

Rabu, 14 Desember 2011

Kisah Nenek Pemungut Daun (Sebuah Kisah Penuh Hikmah)

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan.

Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.
Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. "Jika kalian kasihan kepadaku," kata nenek itu, "Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya."

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa.
Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.

Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

"Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai," tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya."


(Kisah hikmah ini di atas merupakan penuturan Jalaluddin Rakhmat yang didengar dari Kiai Madura, D. Zawawi Imran. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Alloh swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Alloh. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah SAW?)

Sumber: http://mahadstainparepare.blogspot.com

Membumikan Alquran

Bagaimana umat Islam “membumikan Al-Qur’an”? berikut beberapa kajian yang disampaikan:
1. Mengenali nama-nama Al-Qur’an
Beberapa penjelasan termasuk di dalam Qur’an memberikan nama dan fungsi Qur’an. Contohnya: Al-Huda (petunjuk), Al-Furqon (pembeda), Asy-Syifa (obat/  penawar), An-Naba (berita besar), An-Nuur (cahaya penerang) dan lainnya. Khusus untuk kondisi umat yang sedang sakit seperti saat ini, nama-nama dan surat -surat ini menjadi sangat penting (tanpa melupakan surat-surat lainnya). Jika saat ini umat memang tidak menjadikan Qur’an sebagai petunjuk yang nyata, maka apa yang menjadi petunjuk dan pedoman yang dipegang?yang nyata-nyatanya tidak sanggup mengobati kondisi umat saat ini.
“Alif laam miim. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (Q.S. Al-Baqoroh (2) : 1- 4).
2. Memaknai ayat-NYA
Pengertian ayat yang diartikan “tanda”, tanda yang mengantarkan kita ke tujuan utama, yaitu mencari ridho-NYA dalam setiap aktivitas hidup. Tanda dalam Qur’an ini memang harus dimengerti terlebih dahulu jika kita ingin mencapai ridho-NYA, dalam artian kita juga harus mengkaji tanda yang disampaikan-NYA tersebut.
Apakah memang kita cukup membaca Qur’an saja tanpa mengkaji artinya?mungkin ada beberapa diantara kita yang hafal Qur’an (baik sebagian maupun seluruh Qur’an), tetapi hanya baik dalam menghapal tidak dalam mengkaji? Perumpamaan yang tepat seperti keledai yang membawa kitab-kitab di punggungnya tetapi tidak tahu apa yang dibawanya.
3. Merenungkan ayat-NYA
Beberapa ilmuwan-ilmuwan Islam zaman dahulu banyak yang mendapatkan petunjuk keilmuan bahkan dari Qur’an, seperti contohnya Ibnu Sina yang di dunia dikenal sebagai bapak kedokteran modern, yang bahkan saat itu belum ada jurusan perkuliahan fakultas kedokteran seperti saat ini. Lihatlah bagaimana alam semesta tercipta, yang dimulai dari teori big bang (ledakan besar). Telah difirmankan dalam Qur’an:
“Dialah pencipta langit dan bumi.” (Al – An’am (6): 101).
“Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak.” (Q.S. Ar‐Rahman (55) : 37).
4. Memperhatikan dan menjalankan isi ayat-NYA
Pengertian memperhatikan ayat-NYA disini adalah bagaimana mengartikan Qur’an dalam kehidupan dan keadaan saat ini. Seperti contohnya; pembunuhan pertama yang dilakukan anak Nabi Adam AS. yaitu Qobil terhadap saudaranya Habil. Saat itu Habil dibunuh dengan hantaman batu ke kepala saudaranya, tetapi saat ini pembunuhan pun bisa dilakukan dengan senyawa kimia Arsenik yang tidak berbau dan tidak berasa.
Lebih lanjut contohnya seperti saat perang badar, Rosululloh SAW., memerintahkan pasukan untuk memperbaiki “kekuatan perang”, yang saat itu masih berupa panah, pedang dan tombak, tetapi saat ini diaplikasikan sebagai senjata api.
Hukum, syareat dan aturan Azza wa Jalla dalam Qur’an tidak pernah berubah dari sejak difirmankan-NYA.
Sesungguhnya Qur’an itu sudah sangat lengkap dan tidak perlu koreksi lagi. Mulalilah “membumikan Qur’an” dari diri sendiri, keluarga sendiri dan orang-orang terdekat. Perjalanan beribu kilometer dimulai dari satu langkah besar.

sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150280035244914

Dari pemarah ke Pemaaf

Dalam hidup kita tidak boleh mencari musuh, tapi kalau ada musuh, kita tidak boleh lari. Dalam konteks dakwah mengajak manusia pada kebaikan dan kebenaran, maka musuh kita bisa jadi adalah rasa egoisme kita, ataukah egoisme yang bersarang dada orang lain.

Bagaimana cara kita menghadapi musuh? Dr. A’idh al-Qarni dalam buku “Terampil Berdialog” memberikan tips kepada kita agar menang dalam dialog. Kata beliau, “lawan dialogmu adalah laksana landak.” Landak itu kan makhluk yang tajam badannya. “Jika engkau berani memasuki sarangnya, maka ia akan mengeluarkan jarum yang dimilikinya. Bila sudah begitu, berarti engkau harus bersiap-siap menghadapi perlawanannya.”

Jadi, kalau kita hadapi seseorang dengan keras, maka akan keras juga jadinya—kecuali dalam perang! Namun, kata penulis kitab La Tahzan itu, bila engkau perlakukan ia dengan lembut dan mengajaknya dengan baik, ia akan keluar dari sarangnya dengan diam, tenang dan merasa aman.

Memang betul, sesuatu yang kasar itu rasanya tidak enak di hati. Suatu waktu ada yang bertengkar masalah sepele. Seseorang mencari plastik yang hilang, kemudian bertanya kepada kawannya. Kawannya ini merasa, bahwa pertanyaan kok keras sekali dan terkesan menvonis. Akhirnya, yang ditanya tidak terima, dan terjadilah pertengkaran mulut. Masalahnya sepele saja, tentang satu plastik yang hilang, kemudian cara bicara yang terlalu keras dan tidak enak di hati sang pendengarnya.

Kembali kita ke landak tadi. Jadi, landak sebenarnya sama juga dengan manusia. Kalau dihadapi dengan pelan, maka landaknya akan keluar dengan pelan-pelan dari sarangnya. Nah, kalau dia sudah enakan hatinya, pas dia keluar itulah baru, mengutip dari al-Qarni lagi, “…engkau akan dengan mudah menangkapnya.”

Dalam sebuah debat juga adakalanya yang dicari oleh orang adalah sisi tingkatan score-nya. Padahal, score yang tinggi belum tentu benar dan menang. Dalam film kungfu yang judulnya Fearless (pemainnya Jet Li), ada sebuah hukum yang baik: kemenangan sejati bukan semata saat kita bisa menjatuhkan musuh, tapi sejauhmana kita bisa mengendalikan diri kita dari egoisme dalam dada.

Dalam film itu diceritakan dengan ambisi Jet Li untuk menjadi petarung nomor satu di negerinya. Ia kemudian bertarung dengan banyak jagoan, dan pada kalah semuanya. Akhirnya, karena merasa diri paling hebat, ia pun menantang seorang jagoan besar. Jagoan besar itu memang akhirnya kalah, tapi yang menyakitkan bagi Jet Li dalam film itu, adalah saat anak buah dari jagoan besar itu membalaskan dendam dengan menghabisi nyawa ibu dan anaknya. Ia akhirnya pergi menjauh, terdampar di sebuah tempat, diselamatkan orang, dan memulai hidup baru dengan belajar dari kesejatian orang-orang pedesaan. Beberapa tahun kemudian, ia pun pulang, dan ambisi untuk menjadi nomor satu itu pun sudah dicampakkannya jauh-jauh. Namun, ketika pengaruh modernisasi barat masuk ke Cina—dan menghinakan bangsanya—ia pun tampil kembali menjadi petarung.

Dalam pertarungan terakhir, saat istirahat, minumannya dimasukkan racun oleh manajer dari lawannya. Pada sesi pertarungan, ia masih kuat, namun lama-kelamaan ia merasakan adanya unsur tertentu dalam dirinya yang mengganggu darahnya. Lawannya memintanya untuk mengakhiri pertandingan, tapi ia tidak mau, dan ingin terus bertarung. Kekuatan jiwa itulah yang membuat lawannya kagum padanya dan menjadikannya nomor satu, padahal sebentar lagi hayatnya akan tiada oleh karena racun.

Pengendalikan diri memang sulit. Tapi, bukan berarti kesulitan itu tidak bisa mengejawantah. Hal itu bisa terjadi, bisa menjelma dalam diri kita, kalau kita buang dulu perasaan bahwa dirimu itu yang paling hebat, dan orang lain itu dibawahmu. Kalau perasaan merasa diri hebat masih ada, rasanya akan sulit kita untuk menerima hal baik dari orang lain, yang ada malah akan muncul iri hati, dengki dan buruk sangka. ***

sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150305879854914

Islam adalah milik semua kehidupan; Milik semua Agama..!!!!!!!!


Islam adalah milik semua kehidupan; Milik semua Agama..!!!!!!!!

oleh Jaahil Murokkab pada 16 November 2011 pukul 7:50
Awas! Ini arung jeram pemikiran. Anak-anak dilarang masuk.

Sebelum melanjutkan membaca tulisan ini sebaiknya anda harus periksa akal sehat anda.  Jika tidak, anda bisa saja mengalami kecelakaan pemahaman, hingga pendarahan serius di bagian pemikiran. Olehnya siapapun  sama sekali tidak pernah saya sarankan untuk tancap gas membaca tulisan ini. Silahkan berhenti selagi anda belum terjebak dan terperosok dalam kesalahan berfikir.

Ini menurut hasil meditasi di kamar kesunyian saya... Bahwa
Semua agama pada hakikatnya adalah Islam. Dengan catatan, jika... Islam dipahami sebagai ajaran Universal yang relevan dengan segala ruang dan waktu. Dengan catatan jika Islam dipahami sebuah spirit, sebagai ROH Universal yang melekat dalam alam dan kehidupan. Sebuah sistem Kebenaran yang include dalam mekanisme hukum alam.

Dan jika visi semua agama adalah Kebenaran Universal, maka semua agama, sejatinya adalah menuju nilai-nilai Islam. Di level hakikat adalah nilai-nilai Islam. Tapi dilevel zahir, di level kedagingan, di level realitas, maka nilai-nilai ISLAM itu mengejawantah dalam bentuk agama-agama. Ada agama Islam, ada agama Kristen, ada agama Yahudi, ada agama Buddha, ada agama bla bla.

Islam ciptaan Tuhan
Sedang agama buatan manusia
Manusia membuat agama untuk menampung nilai-nilai ISLAM.

Islam di LANGIT, agama di BUMI.
ISLAM Universal Being, AGAMA-AGAMA parsial temporal.
ISLAM adalah air, AGAMA –AGAMA adalah gelas-gelas sebagai wadah penampung nilai-nilai ISLAM (Kebenaran Universal)

Semua agama mengacu, menuju pada nilai-nilai ISLAM (nilai-nilai Universal), termasuk agama Islam.

ISLAM bukan milik AGAMA ISLAM.
Tapi ISLAM adalah milik kehidupan.
Milik semua agama.

Selamat berpikir!

sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150393811189914

Maaf, Saya Ini Seorang Pelacur...!!!!!!!!!!!!!


Sekali lagi Maaf, ini sudah pilihan hidup saya. Saya memang seorang pelacur. Tidak ada yang memaksa saya selain murni atas keinginan saya sendiri. Kenapa saya mau menjadi pelacur? Karena nikmatnya luar biasa. Anda boleh munafik. Tapi saya tidak.

Saya tahu anda mulai ngeres. Karena memang otak anda porno. Maaf. Karena cara berpikir anda juga porno. Tapi saya lain. Saya tidak melacur hanya di bidang porno. Tapi saya melacur dalam tiga hal:

Pertama, Pelacur Gagasan

Saya tidak puas bila hanya menyerap gagasan dari satu sumber, bila hanya dari satu orang, bila hanya dari satu buku, bila hanya dari satu tokoh. Apalagi bila hanya dari apa yang sanggup saya pikirkan sendiri. Sejauh yang saya tahu nyaris tidak ada seorang pemikir, cendekiawan, yang menjadi besar atas onani pikirannya sendiri. Benih gagasan mereka disiram oleh banyak gagasan lain dari banyak sumber. Imanuel Kant tidak tiba-tiba menjadi filsuf raksasa Abad Modern, tapi dia mulai merangkak dari menyerap banyak pemikiran filsuf sebelumnya. Begitu juga dengan Hegel, Marx, Nietczche, Derida, Foucalt, Yasraf Amir Piliang dan seterusnya.

Gagasan yang berputar-putar di kandang sendiri tak kan pernah besar selain hanya merasa besar sendiri. Dan biasanya sikap seperti itulah yang akan menjadi cikal bakal fundamentalisme. Buta akan gagasan dunia luar. Tapi mabok mengklaim dan memuja pemikiran sendiri. Dalam langit tempurung yang tertutup.

Itulah sebabnya saya selalu melacur kesana kemari. Menyetubuhi buku-buku seksi apapun  kapanpun dan dimanapun saya temui. Menelanjangi orang-orang untuk meraba wawasan mereka.  Menelusuri rimba raya gagasan dimana pun dapat saya temui. Untuk memperkaya dan memperluas cakrawala berpikir saya yang masih sumpek  dan kerdil ini.

Kedua, Pelacur Spiritual:

Pada mulanya saya adalah seorang Islam fundamentalis. Islam sentris. Yang dibesarkan dalam lingkungan Islam rakyat, sebagai warisan dari cara pandang Islam di lingkungan keluarga sederhana, dari kebiasaan yang diterapkan di pesantren, sekolah saya menimba ilmu agama, dari ceramah demi ceramah di mesjid, dari nasehat demi nasehat orang-orang taat di sekeliling saya.

Tapi entah kenapa setan ingin tahu selalu bermukim dalam kesadaran saya. Tidak pernah saya puas atas keyakinan yang dipaksakan ke dalam kesadaran saya. Entah kenapa saya merasa gerah dan terbelenggu. Entah kenapa saya tidak merasakan udara lapang Keislaman dari semua itu.

Maka dengan modal kebandelan dan semangat mencari yang tak pernah padam, saya memasuki rimba raya berbagai model keyakinan dan paham Keislaman. Meminjam istilah yang dinisbatkan para pengamat atas pemikiran Sufi-filosofis Ibnu Arabi, saya ibarat memasuki hutan rimba tanpa kompas. Menggiurkan sekaligus rawan tersesat tanpa tahu jalan kembali.

Tapi semangat mencari yang tak pernah padam membawa saya berjalan tanpa henti ke sana kemari. Mengintip dan memamah berbagai paham Keislaman. Bahkan juga paham-paham agama lain selain Islam. Bahkan juga paham gnostik, agnostic dan Atheis. Melalui buku, melalui tokoh-tokoh pemikir yang saya tidak pernah bertemu secara nyata. Tanpa rasa was was apalagi takut.

Dari pengalaman pribadi, yang pernah tertidur dalam paham Islam fanatik, saya bisa memahami apa yang dirasakan oleh umat Islam yang suka mengamuk dan para teroris atas nama jihad. Tidak lain dan tidak bukan adalah karena akal pikiran mereka sudah diselimuti oleh dogma agama. Saya tidak bermaksud menyalahkan dogma. Tapi yang namanya dogma tidak pernah bicara. Dia hanya diam dalam teks-teks kitab Suci. Tapi manusialah yang menghidupkan dogma itu dengan terang nalar dan penafsiran. Hingga spirit dogma menjadi cair dan selalu hidup sejalan dengan evolusi perkembangan zaman. Begitulah saya menghayati agama dan spiritualitas.

Itulah sebabnya saya menjadikan hati dan pikiran saya sebagai medan sirkulasi keluar masuk berbagai model keyakinan. Itulah sebabnya saya tak pernah henti melacur dengan sekian macam model paham keyakinan.

Ketiga: Pelacur gaya menulis

Pada mulanya saya belajar menulis dari guru bahasa Indonesia di sekolah. Kemudian merangkak ke kampus dimana saya kuliah. Saya diajarkan metode penulisan karya limiah. Mulai dari tata bahasa, struktur tulisan, hingga aturan main dalam menyajikan gagasan.

Tapi dari semua itu saya tidak menemukan kenikmatan dalam menulis. Jangankan kenikmatan, kegiatan menulis itu sendiri seperti hantu yang menakutkan bagi saya. Tidak jarang untuk menulis satu paragraf pertama saja sudah merontokan sel-sel syaraf saya. Ah … saya gerah. Apa artinya menulis jika hanya sebuah siksaan? Apa artinya menulis jika bukan menjadi sebuah tamasya kreativitas?

Maka sejak itu melacurlah saya ke berbagai buku tentang dunia tulis menulis. Saya mengintip bagaimana cara memasak sebuah tulisan yang enak dan gurih untuk disantap pembaca. Saya melatih diri terus menerus menulis menulis dan menulis, walaupun hanya untuk saya baca sendiri. Beberapa waktu saya pernah aktif menulis di Koran, buletin, mading dan majalah. Tapi saya belum puas. Saya belum menemukan nikmat menulis dalam arti yang sebenarnya sesuai keinginan saya.

Maka saya kembali melacur. Mengintip cara-cara menulis dimana saja dapat saya temukan. Saya mengintip bagaimana gaya penyajian tulisan penulis-penulis favorit saya, baik dibidang penulisan, agama, filsafat, seni dan sastra. Dari tumpukan berbagai referensi itu saya melakukan uji coba terus menerus, hingga kini.

Saya mengaduk, memblender dan meracik berbagai bumbu, kecap dan ramuan gaya penyajian untuk teknik penulisan saya. Dan apa yang anda baca hari ini adalah hasil dari pelacuran teknik penulisan yang saya ramu dari sekian referensi. Hingga akhirnya saya temukan gaya yang memuaskan bagi saya sendiri. Hingga akhirnya menulis menjelma menjadi semacam libido kreatif yang tiada henti dalam diri saya, sebagai ranjang orgasme psikologis bagi saya sendiri.

Lebih kurang demikianlah kisah pelacuran saya.

Salam pelacur !

sumber : http://www.facebook.com/dmraja?sk=notes&s=20

Saya tidak suka uang..!! saya tidak suka cewek cantik..!! saya tidak bernafsu..!! (maaf, anda salah faham)


Banyak orang yang salah sangka terhadap diri saya
Salah sangka itu artinya, terlalu menganggap diri saya itu baik
terlalu berlebihan menganggap saya, akhirnya salah kaprah
Misalnya kalau saya tidak kaya, tidak suka uang,
itu disebut  mereka bahwa memang dia yang tidak mau,
saya tidak menjadi pejabat,
dibilang memang dia tidak beminat,
karirnya dia memang tidak mau seperti itu,
dia tidak tertarik pada materialisme,
akhirnya saya tertawa dalam hati...

Itu saya bilang salah paham,
sebab saya orangnya materialistik,
saya orangnya ingin jabatan,
saya sangat tertarik sama wanita cantik,
saya sangat tertarik pada jabatan tinggi dan kekuasaan,
saya sangat tertarik pada uang dan hedonisme
saya sangat tertarik pada harta benda,
saya sangat tertarik pada materialisme,
sangat tertarik. artinya dalam tanda kutip,
libido saya benar-benar bangkit ingin memiliki semuanya.

jadi,
anda jangan menyangka saya tidak tertarik
atau tidak menginginkan itu semua,
sekali lagi saya mau, sangat mau...
Jangan anda menyangka kyai, ulama,
ustad dan tokoh-tokoh agama lainnya
yang notabenenya tau ilmu agama
itu tidak tertarik atau tidak senang dengan materi,
mereka tetap tertarik atau berhasrat memilikinya...
cuma ada dua hal yang ingin saya kemukakan,
pertama materi itu tidak boleh kita hilangkan,
nafsu jangan di lenyapkan,
jadi materi dan nafsu jangan dinihilkan..
saya tetap bernafsu. .
mata saya tetap terbelalak melihat wanita cantik,
saya tetap materialistik,
hasrat saya menyala-nyala melihat uang yang banyak..
saya tetap ingin segala macam kehebatan dunia dan kemewahan dunia,
saya sangat menginginkanya, sangat

cuman,
saya terikat oleh kewajiban untuk mengendalikan,
jadi bukan bahwa saya menghilangkan nafsu,
tapi saya mengendalikan nafsu,
saya berusaha menguasai nafsu, mendidik nafsu saya,
sampai batas-batas yang tuhan tidak marah sama saya.

saya ingin menjadi pejabat,
saya ingin mempunyai kekuasaan,
saya ingin kemewahan dan sebagainya,
tapi saya mengendalikannya sedemikian rupa,
saya tetap menahan ledakannya sekuat tenaga saya,
karena saya di pagari oleh kewajiban itu,
karena saya di ikat untuk mengendalikan itu semua.
sampai pada batas dimana saya tidak dimarahi
oleh yang memiliki kekuasaan yang sejati,

demikian juga uang,
demikian juga benda-benda dunia yang lain,
semua itu membikin libido saya naik
adrenalin saya mencair, dan mengalir.
saya jadi bergairah dan sangat agresif.
tetapi orang lain menyangka bahwa
kalau orang sudah tinggi ilmunya, tau agama, intelek,
maka dia akan tidak tertarik lagi,
saya katakan tidak begitu, tetap tertarik.

biar ulama umur 83 tahun kalu lihat cewek cantik dan seksi,
pasti dia tetap tertarik, cuman dia mungkin punya faktor lain
yaitu kewajiban untuk mengendalikan, dan atau mengontrolnya
faktor lain itu misalnya juga adalah pengetahuan untuk proporsional,
pengetahuan estetis, pengetahuan kepantasan dan sebagainya,

jadi salahlah orang yang mengatakan bahwa saya tidak bernafsu,
bahwa saya tidak mau harta benda, bahwa saya tidak mau kekuasaan,
saya sangat mau, mau sekali...
cuman.....
saya diikat oleh kewajiban untuk mengendalikannya.

sumber : http://www.facebook.com/dmraja?sk=notes

Selasa, 13 Desember 2011

Kalau hanya sekedar lahir dan Hidup, Binatang seperti Anjing pun bisa...!!!!


Hidup itu kenikmatan, tetapi belum tentu keunggulan. Oh ya, memangnya apa perbedaan antara kenikmatan dari keunggulan…? Kenikmatan adalah sesuatu yang dianugerahkan, sedangkan keunggulan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan.

Lalu bagaimana dengan hidup…? Hidup adalah kenikmatan. Engkau tidak perlu berjuang untuk lahir, bahkan engkau tidak pernah menginginkan kelahiranmu sendiri. Engkau lahir bukan karena perjuanganmu. Engkau lahir karena Dia telah menganugerahkan nikmat kepadamu, kedua orang tuamu, keluarga dekatmu, dan orang-orang yang berbahagia menyambut kelahiranmu. Karenanya kehidupanmu adalah kenikmatan.

Tetapi engkau jangan terlena, karena bukan hanya dirimu yang menerima anugerah hidup. Engkau pasti mengetahui dan menyadari ini. Artinya engkau tidak perlu bangga Tuhan telah memberimu kelahiran dan kehidupan… Bahkan engkau jangan merasa dirimu ada, hanya mengandalkan keduanya… Sungguh kelahiran dan kehidupan adalah sesuatu yang biasa, bahkan binatang seperti anjing pun tengah menikmatinya… Semata-mata kelahiran dan kehidupanmu belum membuatmu berbeda dengan semua hewan yang kauanggap hina… Bagaimana mungkin engkau merasa berbeda, padahal engkau dan mereka sama-sama dilahirkan dan dihidupkan…?

Dan sungguh, engkau lahir dan hidup bukan tanpa sebuah tujuan. Bahkan tujuan penciptaanmu jauh lebih besar daripada kelahiran dan kehidupanmu… Dan sejauh capaianmu menemukan tujuan penciptaan itulah, yang membuat hidupmu bernilai… Kualitas hidup ditentukan oleh seberapa jauh seseorang bisa menghasilkan makna dari tujuan ia diciptakan… Dan makna itu harus diwujudkan.Tidak cukup hanya ditemukan dalam pikiran dan kesadaran, melainkan harus dibuktikan dengan mengkreasi kebaikan, bagi kehidupan…!

Pada saat engkau berhasil mewujudkannya, sebanyak dan seberapa nilai yang bisa kau perjuangkan, maka di situlah keunggulanmu menemukan bentuk… Pada saat itulah, kehidupanmu bukan hanya kenikmatan, melainkan keunggulan; engkau bukan hanya satu dari makhluk-makhluk Tuhan, melainkan satu dari hamba-hamba pilihan… Jika hatimu pun masih menyisakan rasa bangga, maka sekaranglah saatnya engkau baru pantas merasakannya… Namun sayangnya, seorang hamba pilihan takkan pernah merasa bangga dengan capaian yang telah diraih, karena hidupnya selalu disibukkan dengan perjuangan mencapai hal-hal lain yang belum ia raih… Dan justru karena itulah ia akan selalu menjadi orang unggul, yang membuat keunggulannya senantiasa baru dan meningkat…!

Maka… perjuangan meraih keunggulan hidup itu tidak pernah berhenti, kecuali saat kematian menghentikannya…! Tetap berjuang mengkreasi hidup unggul, sampai titik kehidupan berhenti di ujung…. Selamat berjuang…!

sumber : http://www.facebook.com/dmraja?sk=notes&s=20

Dilarang mencari Uang...!!!!! (Jangan merendahkan diri terhadap uang)


Jadi begini,
Saya ini sering di anggap sombong....
oleh teman-teman saya, oleh siapa saja
karena saya selalu mengatakan, bahwa
saya tidak akan pernah mau hidup didunia
untuk mencari yang namanya uang, jadi
saya sama sekali tidak pernah mencari uang,
saya mengajar, menulis, mungkin saya bikin puisi,
mungkin kadang-kadang saya bermain musik,
mungkin saya kadang-kadang melakukan apapun yang diminta oleh masyarakat,
tapi saya tidak akan pernah melakukan apapun didunia ini untuk mencari uang.

Artinya ....
Uang hanya menjadi urusuan nomor sekian dalam kosakata hidup anda..
Uang hanya harus menjadi efek moral dari sebuah pekerjaan...
Uang hanya harus menjadi percikan dari niat yang kita lakukan,
Kalau anda menyetir atau jadi supir bis,
itu meskipun anda tidak cari uang anda akan dapat bayaran,
maksud saya, anda tidak perlu menjadi mahkluk yang merendahkan dirinya,
dengan mengejar-ngejar mahkluk lain yang bernama uang,
karena anda lebih tinggi dari uang,

yang kita perlukan adalah bagaimana supaya kita ....
menjadi sebuah kepribadian yang dengan sikap,
sifat dan prilaku yang membikin uang yang mengejar-ngejar kita.
Jadi inilah yang disebut dengan amanah,
jadi orang akan merasa aman sama anda,
kalau orang menitip motornya ke anda,
orang percaya motornya tidak akan rusak,
orang percaya motornya tidak akan hilang,
tidak akan dipakai yang tidak-tidak,

orang menitipkan jabatan kepada anda,
orang merasa aman kepada anda.
Itu disebut mukmin kalau dalam islam.
Asal anda bikin orang aman, maka
itu artinya anda sudah dipercaya,
anda membikin segala sesuatu stabil.

Maka anda tidak perlu cari uang,
karena uang yang akan sibuk mencari anda.
karena uang yang akan pusing mencari anda,
Jadi itu yang saya maksudkan.
Menurut saya jangan menyibukkan diri,
dengan sibuk hatinya, fikirannya, darahnya,
emosinya, batinnya, jiwanya, sholatnya, hajinya, untuk mencari uang.

Karena derajatnya uang itu yang mencari anda.
Derajat anda adalah dicari oleh dunia.
Anda tidak punya derajat yang rendah untuk mencari dunia,
kalau menurut Allah seperti itu. Jadi sesungguhnya,
dengan anda tidak terlalu berkonsentrasi mencari uang,
sesungguhnya potensi uang yang datang kepada anda jauh lebih banyak,
daripada kalau anda sibuk mencari uang,
kayaknya itu yang banyak terjadi sekitar kita....

sumber : http://www.facebook.com/dmraja?sk=notes&s=10

Reinkarnasi “Mbah Dukun Jodoh” Dari Zaman Kuno Ke Zaman IT


   Adam,sang manusia pertama yang diciptakan didunia ini, sudah ditakdirkan untuk hidup didampingi oleh jodoh yang ditetapkan oleh allah bernama hawa. Dan hingga era millenium ketiga ini, semua umat manusia masih sangat membutuhkan eksistensi seorang jodoh . sebagai manusia normal, tentunya suatu kewajaran jika kita menghendaki pasangan hidup  alias jodoh tersebut. Nah, yang menjadi dikotomis hingga detik ini adalah ketika manusia dengan hasrat manusiawinya tak kunjung sukses dalam pencarian sang jodoh , memilih shortcut yang menurut mereka lebih riil.
 Sebelum IT berkembang pesat, shortcut yang populer dikalangan pemuda yang hendak mencari jodoh yang tak kunjung datang adalah sosok yang disebut “ Mbah dukun”. Asumsi general pada saat itu adalah mbah dukun dianggap sebagai sosok yang mampu mendeteksi keberadaan jodoh sang client dengan kekuatan supranatural.  Paradigma akan  kejeniusan Mbah dUkun di alam metafisika ini tentunya memiliki efek plus-minus khususnya terhadap nilai-nilai spiritual masyarakat. Efek plusnya adalah kemampuan finansial sang dukun akan meningkat. Dan efek minusnya adalah Umumnya masyarakat yang membutuhkan jasa tradisional ini memandatkan sepenuhnya nasibnya kepada Sang mbah dukun.  pada saat seperti demikianlah akidah masyarakat akan keropos sebab eksistensi mbah dukun dipersepsikan sebagai penentu jodoh padahal dukun juga manusia, dan yang menentukan jodoh seseorang adalah tuhan bukan mbah dukun.
Bagaimana dengan zaman sekarang,  apakah mbah dukun masih eksist di zaman dimana Teknologi merupakan suatu keniscayaan di setiap sudut kehidupan manusia????? Jawabanya adalah ya. Bahkan, Si mbah dukun mampu beradaptasi dengan dunia modern dengan jalan reinkarnasi wujud. Secara esensial, peranan Mbah dukun di era tradisional telah terintegrasi dengan media teknologi yang ada. Bukti riil bahwa Mbah dukun masih ada adalah Hampir setiap detik  promosi yang berkedok jodoh semakin marak kita saksikan di Televisi maupun internet, misalnya Ketik REG JODOH kirim ke 9288. Apa bedanya Promosi tersebut dengan ruh mbah dukun. Keduanya memiliki esensi yang sama, hanya subtansi dan periodenya saja yang mengalami reinkarnasi. Dan tentunya plus minus yang terjadi bahkan lebih parah daripada si mbah dukun tradisional. Sms jodoh tersebut bukan hanya merusak aqidah tapi juga menjadi sarana penipuan.
Sebagai kesimpulan, kita masti memperkokoh aqidah kita agar tidak tergoyahkan  mengingat sarana yang bisa menggerogoti aqidah di zaman IT ini smakin manjadi-jadi. Termasuk diantaranya dalam pencarian jodoh sebagai pendamping hidup kita. Kita mesti mempercayakan qada’ dan qadar kpada allah SWT bukan ciptaannya seperti si mbah dukun. Jangan sampai perkembangan IT justru membuat kita terlena dann akhirnya hanyut ke lembah kesesatan.

sumber : http://www.facebook.com/notes/heriadi-darwis/reinkarnasi-mbah-dukun-jodoh-dari-zaman-kuno-ke-zaman-it/292054107506630

Senin, 12 Desember 2011

Dengan kafir saya semakin beriman.....!!!!!!!!!!!!!!


Tariklah nafas dalam-dalam.
Santai …. Tenang. Lalu bacalah pelan-pelan.

Saat saya tergabung di majelis orang beriman, ada rasa bangga bersembunyi didada ini. Terasa diri ini sudah bersih. Bersyukur sudah bergabung dengan mereka, yang mulut mereka tak henti menyebut iman, Tuhan, pahala, sorga dan neraka. Dan saya pun melakukan hal yang sama.

Sejak saat itu, saya kasihan dengan orang-orang yang belum beriman. Kapan mereka akan sadar? Kapan mereka akan hidup di jalan yang benar? Kapan mereka akan bisa tersentuh? Kapan mereka akan berhenti berbuat maksiat? Kapan mereka akan berhenti berbuat dosa? Kapan mereka akan berhenti diperdaya kehidupan dunia? Kapan mereka akan mendahulukan akhirat dari dunia?


"Oh Tuhan …. Tunjukilah hati mereka agar mereka kembali ke jalamMu.
Jalan yang suci. Bukan jalan yang mereka lalui. Jalan yang penuh dosa.
Tapi hati mereka tertutup. Hati mereka sudah mengeras. Mereka sudah terpedaya.
Tipu daya setan sudah berkuasa dalam diri mereka.
Hingga tidak bisa lagi membedakan, mana yang baik dan mana yang buruk.
Ya Tuhan, sadarkanlah mereka." 


Sekian waktu berlalu …
Kesadaran demi kesadaran berlalu.
Fase demi fase saya lewati.
Berpetualang dalam diri. Jatuh bangun gelisah hati.
Hingga sampailah saya menjadi kafir, seperti saat ini.

Dan kini ,
Tak ada lagi doa untuk orang lain.
Tak ada lagi rasa bangga
Apalagi bersih diri.

Kecuali,
Hanya satu doa yang tersisa:

“Ya Tuhan,
Tolong lemparkan aku kedalam nerakaMu
Agar kutahu betapa diri ini tiada arti.
Agar kusadar betapa diri ini memalukan selama ini"

Jilbab Bukan Ukuran Moral Seorang Muslimah...!!!!!!!!!!


Hati-hati...!!! Perhatian..!!!
Anak-anak dilarang keras bermain disini..
Karena Tulisan ini sangat licin dan halus
Anda bisa saja tergelincir, jatuh dan berdarah
Akhirnya menangis dan meronta-ronta...

Ini memang tidak ada kaitannya hasil observasi skripsi saya..
Tapi setidaknya, inilah hasil survei mata kepala saya..
Tapi sekali lagi, inilah pendapat saya, Jadi
Anda dilarang jungkir balik menyetujuinya..
Realitas tapi ia bukan Kebenaran absolut

Jadi begini ceritanya...
Dulu saya memahami jilbab sebagai pakaian Islam.
Perempuan yang berjilbab pasti dia bagus moralnya,
Pasti Santun Orangnya, Suci Pikiran dan tindakannya.
Tutur katanya lembut dan sopannya tidak diragukan lagi..
Kesimpulannya dia adalah duplikasi dari Aisyah istri nabi..

Tapi setelah banyak membaca, akhirnya saya mulai tahu.
Setelah saya lama bermeditasi, akhirnya saya mulai sadar
Ternyata Jilbab bukan ukuran moral seorang wanita sholihah
 Karena,
Ternyata Jilbab sudah ada jauh sebelum Islam hadir di Arab.
Meski dengan nama dan model yang berbeda.
Tapi intinya, tradisi menutup kepala itu sudah terjadi dibanyak tempat sebelum Islam datang.

Itu dari sisi sejarah.
Lalu bagaimana dari sisi nilai religiusitas?
Bagi saya tidak ada korelasinya.
Soal menutup kepala, soal bugil, itu hanya soal budaya.
Soal evolusi kebudayaan manusia dibidang fashion atau gaya

Karena itu, dimata saya,
Perempuan yang berjilbab tidak otomatis lebih baik dari yang tidak. 
Tidak mesti dia santun dan bermoral dari yang tidak..
Bahkan jika dibandingkan dengan perempuan seksi sekali pun.
Begitu juga sebaliknya.
Kenapa?

Karena iman religiusitas tidak menempel pada pakaian. Tidak bermukim di jilbab.
Tapi mendarat di hati dan pikiran. Dalam kesadaran.
Dalam sikap dan tindakan nyata sehari-hari.

Jilbab, hanya simbol. Hanya artefak kebudayaan.
Hanya bendera sosial komunitas tertentu.

Dan jangan lupa, jilbab juga bisa menjadi hijab iblis.
Tempat menyembunyikan kejahatan. Kenapa bisa?
Karena imaje jilbab sebagai lambang perempuan sorga bisa ditunggangi.
Dalam jilbab yang besar, bisa berdiam seorang laki-laki hidung belang.
Dalam jilbab yang besar, bisa bermukim tangan-tangan ramah gentayangan.

Dibalik jilbab, bisa tersimpan sebuah misteri kejahatan. Tapi diselamatkan oleh jilbab sebagai selimut sosial. Dibalik jilbab bisa terdapat semacam pelarian dari rasa tidak percaya diri dengan penampilan. Dengan rambut yang tidak menarik. Dengan gempuran Arabian Fashion. Dari gempuran trend mode. “Tanpa jilbab saya merasa kuper. Habis, lagi model sih.”

Intinya, jilbab, bagi saya hanya soal eksternalitas. Sisi luar dari diri.
Jibab hanya soal semiotika sosial. Metafor dari hegemoni kaum sorga.

Bagaimana menurut Anda?

SUMBER: http://dirja-wiharja.blogspot.com/2011/11/jilbab-bukan-ukuran-moral-seorang.html
Cool Text: Logo and Graphics Generator
TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DI INFO DUNIA_AXEL ACHMAD_BLOGSPOT.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls